Terancam Absen di Porprov 2026, SIWO Pessel Apresiasi Perjuangan Pemkab dan Koni

Oplus_131072

LINTASREPUBLIK.COM – Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Kabupaten Pesisir Selatan mengapresiasi upaya Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan bersama KONI setempat dalam memperjuangkan keikutsertaan kontingen daerah pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026.

Sekretaris SIWO PWI Pesisir Selatan, Nanda Rahayu Putra, mengatakan upaya yang dilakukan Pemkab dan KONI menunjukkan adanya keinginan kuat agar atlet-atlet Pesisir Selatan tetap dapat berlaga dan membawa nama daerah pada ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

Bacaan Lainnya

Menurut Nanda, ancaman batalnya keikutsertaan Pesisir Selatan tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai minimnya dukungan terhadap olahraga. Sebab, pemerintah daerah telah menunjukkan komitmennya dengan mengalokasikan anggaran untuk menghadapi Porprov.

Pemkab Pesisir Selatan telah menyiapkan anggaran sebesar Rp2,2 miliar melalui APBD Perubahan (APBD-P) 2026 untuk mendukung kebutuhan kontingen daerah pada Porprov Sumatera Barat.

“Kami melihat ada keseriusan dari Pemkab maupun KONI Pesisir Selatan. Anggaran telah diperjuangkan dan disediakan, sementara KONI juga sudah mempersiapkan atlet yang nantinya akan membawa nama Pesisir Selatan,” kata Nanda, Minggu (13/9/2026).

Namun, menurut dia, persoalan yang dihadapi saat ini cukup kompleks karena jadwal pengesahan APBD-P dengan pelaksanaan Porprov berada dalam rentang waktu yang sangat berdekatan.

APBD-P Pesisir Selatan dijadwalkan disahkan pada 27 September 2026, sedangkan Porprov dijadwalkan mulai 2 Oktober 2026. Dengan kondisi tersebut, waktu untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan kontingen menjadi sangat terbatas.

Nanda mengatakan, SIWO Pesisir Selatan juga memahami berbagai pertimbangan yang menjadi perhatian KONI Pesisir Selatan dalam menentukan langkah, salah satunya berkaitan dengan aspek hukum serta kehati-hatian dalam penggunaan dan pertanggungjawaban anggaran.

Menurut dia, anggaran yang digunakan untuk kontingen merupakan keuangan daerah sehingga penggunaannya harus tetap mengikuti mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Karena itu, kehati-hatian dalam mengambil keputusan juga harus dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga tata kelola anggaran.

“Keinginan untuk mengikuti Porprov tentu sangat besar. Namun, semangat tersebut juga harus berjalan beriringan dengan kepatuhan terhadap aturan. Jangan sampai karena mengejar waktu yang sangat terbatas kemudian muncul persoalan administrasi ataupun pertanggungjawaban di kemudian hari,” ujarnya.

Di sisi lain, SIWO Pesisir Selatan juga menaruh perhatian terhadap para atlet yang selama ini telah berlatih dan mempersiapkan diri untuk menghadapi Porprov. Kesempatan bertanding dinilai sangat penting dalam proses pembinaan dan peningkatan prestasi atlet.

“Kita tentu berharap masih ada jalan keluar terbaik. Jangan sampai atlet yang sudah berlatih dan memiliki harapan besar untuk tampil akhirnya kehilangan kesempatan bertanding karena persoalan yang berada di luar kemampuan mereka,” kata Nanda.

Menurut Nanda, kondisi tersebut membuat persoalan keikutsertaan Pesisir Selatan pada Porprov tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Kepentingan atlet perlu diperjuangkan, namun pada saat bersamaan mekanisme penggunaan anggaran juga tidak dapat diabaikan.

Karena itu, SIWO berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi ruang untuk saling menyalahkan. Semua pihak, menurut dia, memiliki tujuan yang sama, yakni menyukseskan Porprov sekaligus memberikan kesempatan kepada atlet untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.

“Persoalan ini bukan tentang siapa yang harus disalahkan. Yang kita butuhkan sekarang adalah solusi yang memungkinkan Pesisir Selatan tetap berpartisipasi tanpa mengabaikan ketentuan administrasi dan aturan penggunaan anggaran,” ujarnya.

Nanda menambahkan, SIWO Pesisir Selatan juga mengapresiasi langkah KONI Pesisir Selatan yang sebelumnya menyampaikan harapan agar jadwal pelaksanaan Porprov dapat dipertimbangkan pada November atau Desember 2026. Menurutnya, usulan tersebut dapat dipahami sebagai salah satu ikhtiar untuk memberikan ruang persiapan yang lebih memadai, bukan sebagai bentuk ketidaksiapan mengikuti Porprov.

“Prestasi atlet harus kita perjuangkan, tetapi tata kelola yang benar juga harus dijaga. Kami berharap komunikasi antara seluruh pihak terus dilakukan sehingga ditemukan jalan keluar terbaik. Pada akhirnya, yang kita inginkan sama: atlet Pesisir Selatan bisa bertanding, membawa nama daerah dan memberikan prestasi terbaik pada Porprov,” tutup Nanda. (***)

Pos terkait