LINTASREPUBLIK.COM – Foto ini sederhana dua orang laki-laki duduk jongkok di atas jembatan penyeberangan. Kaos hitam polos, celana jeans, sepatu putih, tidak ada kopiah, tidak ada jas, tidak ada dasi, tidak ada atribut kebesaran seorang pemimpin, tampil apa adanya, seperti warga biasa.
Tapi di balik kesederhanaan itu, ada dua nama besar yang hari ini jadi harapan warga di nagari nya masing-masing, mereka adalah, Roni Eka Putra Wali Nagari IV Koto Hilie Kecamatan Batang Kapas dan Bambang Mara Sampono Wali Nagari Painan Induk, Kecamatan IV Jurai.
Foto ini merekam keakraban dua sahabat pengabdi nagari duduk sejajar, melihat kan sosok yang selaras dan setara dengan warganya, tidak ada sekat, karena bagi mereka wali nagari dan warga itu satu tim. Tim yang sama-sama berjuang membangun kampung halaman.
Di era media sosial, mungkin mereka kalah “glamour”, tapi di hati masyarakat, nama mereka harum karena bukti, bukan janji. Gotong royong, musyawarah, dan turun langsung saat warga butuh, itulah gaya kepemimpinan mereka.
Dua Wali Nagari yang dengan sadar memilih untuk turun ke tanah daripada naik ke panggung, bagi mereka, jabatan bukan soal seremonial, jabatan adalah amanah yang harus di pertanggung jawab kan.
Mereka, menjadi pemimpin nagari bukan tentang seberapa mewah pakaian yang dikenakan saat menghadiri acara. Bukan tentang berapa banyak spanduk wajah yang terpasang di simpang jalan.
Pemimpin, bagi mereka, diukur dari seberapa cepat mereka datang saat warga butuh, dan seberapa tuntas mereka menyelesaikan masalah.
Menurut Baron dan Datuak panggilan akrab dua orang sosok pemimpin nagari yang terkenal ramah ini, yang penting kerja jalan, warga senang, nagari maju. Soal baju, nomor sekian.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi itulah filosofi kepemimpinan mereka menomorsatukan warga dan nagari di atas segalanya, Ego pribadi, pencitraan, dan seremonial dikesampingkan, yang utama adalah bukti, bukan janji.
Lihatlah pose mereka di foto ini. Duduk sejajar, Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Karena begitulah cara mereka memimpin, Pose di foto itu jelas mengabarkan sosok pemimpin yang setara dengan warganya, tidak ada sekat antara pak wali dan warganya, semua satu barisan, satu tujuan yaitu membangun nagari.
Di zaman sekarang, ketika banyak orang berlomba tampil glamor di media sosial, dua sosok ini justru memilih jalan sunyi. Jalan kerja nyata. Jalan yang mungkin tidak viral, tapi dirasakan langsung manfaatnya oleh warganya, mereka tidak butuh pujian, Cukup senyum warga yang lega saat masalah selesai, itu sudah jadi gaji terbaik.
Foto ini bukan sekadar gambar dua orang pejabat. Ini adalah cermin kepemimpinan yang seharusnya, sederhana dalam gaya, tapi luar biasa dalam pengabdian. Apa adanya dalam penampilan, tapi nomor satu dalam kepedulian.
Mudah-mudahan dari Nagari IV Koto Hilie dan Nagari Painan Induk ini lahir inspirasi. Bahwa menjadi pemimpin itu tidak harus mahal. Cukup punya hati yang mau melayani, kaki yang mau melangkah, dan tangan yang mau bekerja.
Untuk Roni Eka Putra dan Bambang Mara Sampono, terima kasih sudah mengingatkan kami, bahwa pemimpin hebat itu bukan yang paling lantang bicara, tapi yang paling tulus bekerja.
Pemimpin yang baik bukan yang duduk di singgasana, tapi yang duduk sejajar dengan rakyatnya. (Nanda)






