Tiga Catatan Diakhir Ramadhan, Oleh : Yurnalisman, S.Pd.I

  • Whatsapp

LINTASREPUBLIK.COM –Tak terasa, seiring waktu berjalan tibalah saatnya kita berpisah dengan bulan Ramadhan, bulan yang tempatnya berkumpul semua Nikmat dan berkah-Nya.

Sebulan penuh kita dilatih untuk mendisiplin diri, baik dalam beribadah maupun merasakan haus dan lapar disiang hari dan perbuatan lainnya, semua itu kita lakukan demi Keimanan kita kepada Sang Pencipta.

Bacaan Lainnya

“Siapa yang tidak mampu meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa), maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” (HR. Al-Bukhari).

Kini “madu” bulan Ramadhan sudah sampai di tetes terakhir untuk kita nikmati. Ada tiga catatan yang patut kita garis bawahi selama menikmati bulan Ramdhan tersebut.

Pertama : Seliar Apapun Nafsu Kita, Ternyata Ia Bisa Didewasakan.

Momentum Ramadan menyediakan tarbiyah khusus buat nafsu kita, mungkin, nafsu bisa mendikte apa pun di luar Ramadan, di balik tuntutan lapar, ia bisa saja menciptakan seribu satu dalih agar orang mencuri.

Ia juga bisa mengelabui orang hingga terjebak pada zina. Dan di balik tuntutan istirahat, ia pun mampu mengungkung orang menjadi penyantai dan pemalas.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. 12: 53).

Di luar Ramadan, pintu-pintu aliran energi nafsu kerap terbuka lebar. Ia bebas mondar-mandir. Bisa bertingkah seperti apa pun menurut seleranya. Kekuatan nafsu kian berkembang bersama energi yang diperoleh tubuh dari makan, minum, dan lain-lain. Bayangkan jika pintu-pintu itu tak pernah tertutup. Nafsu jadi kian liar.

Allah SWT menghadiahi Shaum agar seorang mukmin bisa mendewasakan nafsu, bisa menutup dan membuka pintu energinya, hingga, nafsu tidak lagi seperti anak kecil yang bisa dapat apa pun ketika merengek dan menuntut.

Nafsu harus dipaksa, agar, ia bisa dewasa, semoga tarbiyah Rabbaniyah di bulan Ramadhan ini telah memdewasakan nafsu kita, sehingga, pasca Ramadhan nanti kita bisa mengendalikan diri.

Kedua : Sekotor Apapun Jiwa Kita, Ternyata Ia Bisa Dibersihkan.

Jangan pernah membayangkan kalau yang di dalam tak tersentuh kotoran, alur hidup persis seperti aliran air dalam pipa, ada yang masuk, mengalir dan berproses hingga menjadi keluaran, kian kotor masukan, makin banyak endapan yang melekat pada bagian dalam pipa, suatu saat, pipa bisa keropos, ini akan berpengaruh pada keluaran yang dihasilkan.

Selama sebelas bulan, saringan-saringan masukan boleh jadi begitu longgar, bahkan mungkin, tidak ada sama sekali, semua bisa masuk mulai dari yang samar, kotor, bahkan beracun. Kalau saja tidak dipaksa ada saringan, proses pengeroposan menjadi sangat cepat. Jiwa-jiwa yang keropos akan membutakan mata hati.

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami? Atau, telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada,” (QS. 22: 46)

Jika aliran yang masuk melalui pipa mata, telinga, mulut, pikiran, dan rasa bisa tersaring jernih, tidak akan ada endapan, tidak akan ada tumpukan racun si pembuat keropos, otomatis, keluaran pun menjadi bersih, ibadah yang sebelumnya berat menjadi ringan bahkan Sangat ringan.

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi yang mengotorinya,” (QS. 91: 7-10).

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung karena telah berusaha membersihkan jiwa kita selama sebulan di Ramdhan tahun ini.

Ketiga : Sepicik Apapun Ego Kita, Ia Bisa Dicerdaskan.

Kadang manusia bangga berdiri di atas egonya. Seolah ia mengatakan, “Inilah saya!” Nalar berikutnya pun bilang, pusatkan semua kekuatan diri demi kepuasan ego, walau sebenarnya, keakuan itu sudah melabrak nilai-nilai ketinggian Islam.

Karena ego, orang bisa menganggap kalau dirinyalah yang terbaik. Tak perlu masukan dan sumbang saran. Karena ego pula, orang menjadi tak perlu berjamaah. Ego menghias kepicikan diri menjadi prestasi besar.

Ramadan memaksa ego untuk tunduk dengan kenyataan bahwa, yang ego banggakan ternyata tak sekuat yang dibayangkan, dan kelemahannya begitu sederhana, semua ada pada energi yang dihasilkan dari nasi, ikan, telur, dedaunan, dan air, selebihnya, ego tak punya apa-apa.

Dalam bentuk yang lain, ego bisa ditundukkan dengan memperbanyak sujud, Itulah di antara makna qiyamul lail, ketika sendiri, kemuliaan ego melalui simbol kepala secara terus-menerus disejajarkan dengan bumi.

Suatu tempat di mana di situ ada kotoran, tempat berpijak kaki-kaki hewan, dan tempat berkumpul kotoran manusia, ego dipaksa untuk melihat kenyataan diri, bahwa, ia hanya seorang hamba.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya,” (QS. 98: 5).

Semoga tarbiyah Rabbaniyah di Ramadhan tahun ini telah mengembalikan kita kepada kesadaran bahwa kita hanyalah seorang hamba yang tugas utamanya adalah menyembah Allah. Tidak lebih.

Inilah momentum Ramadan yang begitu mahal, persis seperti kucuran hujan buat para petani, kumpulan airnya akan berlalu begitu saja jika tidak segera dibendung, dialirkan, dan dimanfaatkan, agar, benih-benih kebaikan baru bisa tumbuh, besar, dan berbuah, semoga kita bukan petani yang lalai menampung hujan rahmat di Ramadhan tahun ini. (Diolah dari Berbagai Sumber)

Tinggalkan Balasan