Usai Kembali, VR Mahasiswi UNP Yang Dibawa Kabur “Dukun” Alami Trauma Berat Dan Dirawat di Rumah Sakit

  • Whatsapp
Foto : Ilustrasi Trauma

LINTASREPUBLIK.COM – Mahasiswi Universitas Negeri Padang (UNP) inisial VR (22), mengalami trauma berat pasca dibawa kabur oleh pria berinisial C yang diduga seorang dukun, saat ini VR sedang dirawat disalah satu Rumah Sakit Swasta di Kota Padang.

Hal itu disampaikan oleh kakak VR berinisial F, ia menyebut saat ini adiknya dirawat di Rumah Sakit Umum Bunda BMC Padang, selain trauma adiknya mengalami infeksi ditubuhnya.

Bacaan Lainnya

“Iya, sejak kamarin siang dirawat, sementara kata dokter (ada) infeksi rahim dan saluran kemih,” ucap F, Jum’at 30/1/2021.

Menurutnya, saat ini kondisi adiknya sadar, namun sering murung, bahkan, setiap berbicara dengan orang lain selalu menetaskan air mata, dengan kejadian tersebut pihak keluarga membuat laporan adanya dugaan pemerkosaan serta pengelapan motor.

“Kami laporkan pemerkosaan dan pengelapan sepeda motor, kan sampai sekarang keberadaan sepeda motor (yang dibawa VR) belum diketahui, adik saja trauma, kalau bicara sama orang selalu menangis,” terangnya.

Saat ini keluarga VR didampingi oleh tiga pengacara dari Rumah Bantuan Hukum (RBH), kemudian Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Perempuan juga dilibatkan untuk pemilihan psikologis VR.

Kemudian hasil dari pemeriksaan Women’s Crisis Center Nurani Perempuan diduga adannya tindakan pemerkosaan terhadap Mahasiswi itu ketika dibawa oleh pria yang diduga dukun tersebut, terdapat ada tindakan paksaan yang dialaminya.

“Kami baru kemarin ketemu VR (panggilan), melihat kondisinya dalam kesakitan tentu belum bisa diajak ngobrol, Kami masih mendalami, situasi kondisi belum stabil,” ucap Direktur Women’s Crisis Center Nurani Perempuan, Rahmi Merry Yenti.

Merry menambahkan, dari cerita keluarga saat VR dimintai keterangan oleh penyidik dalam Berita Acara Perkara (BAP), mengakui adanya tindakan pemerkosaan dan pemaksaan.

“Itu sesuai keterangan VR saat di-BAP, ketika itu didampingi juga sama ibunya, sampai juga disebutkan ada tindakan pemaksaan, VR dilakukan tidak wajar,” pungkas Merry. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *